Oleh: Ust. Ali Shodikin El-Nasir
Akhir-akhir ini, kita tidak sedang berbicara tentang teori. Ini bukan sekadar wacana, bukan sekadar berita jauh di sana. Ini terjadi di sekitar kita. Di Malang. Di dunia mahasiswa. Dalam rentang beberapa bulan terakhir, muncul beberapa kasus:
Ada mahasiswi yang nekat melompat dari jembatan—beruntung masih selamat
Ada mahasiswa yang ditemukan meninggal dengan meninggalkan pesan keputusasaan
Bahkan beberapa lokasi yang sama menjadi “titik berulang” kejadian serupa
Ini bukan lagi peristiwa tunggal. Ini adalah alarm keras: ada yang tidak baik-baik saja di hati Gen Z kita.
Dalam kondisi seperti ini, dawuh para ulama menjadi sangat penting. Termasuk pesan tegas dari Abah kita, Romo KH. Mahsuli Efendi, yang mengingatkan:“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (QS. Al-Baqarah: 195). Ayat ini bukan sekadar larangan, tapi bentuk penjagaan dari Allah. Seakan Allah berfirman:"Hidupmu itu berharga, jangan kamu rusak dengan tanganmu sendiri." Rasulullah ﷺ pun memberikan peringatan keras tentang bunuh diri. Dalam hadits riwayat Shahih Bukhari disebutkan bahwa orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara tertentu, akan mendapatkan balasan yang sejenis di akhirat. Ini bukan sekadar ancaman, tapi peringatan serius bahwa hidup ini bukan sesuatu yang boleh dipermainkan.
Namun, di sinilah kita perlu bijak memahami. Anak muda (Gen Z) hari ini bukan tidak tahu bahwa bunuh diri itu haram. Mereka tahu. Mereka paham. Tapi yang sering hilang adalah kekuatan untuk bertahan. Maka pesan Abah tidak cukup hanya dibaca sebagai “larangan keras”, tapi juga harus dipahami sebagai panggilan kasih sayang. Bahwa, Hidup ini amanah, Tubuh ini titipan, Dan luka yang kita rasakan, bukan untuk diakhiri, tapi untuk disembuhkan.
Dalam bahasa yang lebih dekat dengan Gen Z, pesan ini bisa kita pahami begini: “Kalau kamu lagi di titik capek banget, itu bukan tanda kamu harus selesai. Itu tanda kamu butuh istirahat, butuh ditolong, butuh didengar.”
Islam melarang bunuh diri bukan karena Allah ingin menghukum, tapi karena Allah ingin menjaga kita dari keputusan yang salah saat kita sedang tidak kuat. Justru dalam kondisi paling gelap, Allah paling dekat. Sayangnya, seringkali yang terjadi adalah kebalikannya.
Anak muda yang sedang hancur justru: merasa sendirian, takut dihakimi, tidak punya tempat cerita. Padahal, dalam tradisi pesantren, kita diajarkan bahwa obat hati itu tidak hanya dzikir, tapi juga kebersamaan. Duduk bersama, didengar tanpa dihakimi, itu juga bagian dari rahmat Allah. Karena itu, menghadapi fenomena bunuh diri hari ini, kita tidak cukup hanya berkata: “Itu haram!”. Tapi juga harus mampu mengatakan: “Kamu tidak sendiri. Ceritakan, kami ada.” Inilah keseimbangan antara syariat dan kasih sayang. Antara peringatan dan pelukan.
Akhirnya, mari kita renungkan bersama: Hidup ini memang tidak selalu mudah. Tapi selama napas masih ada, harapan itu belum selesai. Dan kepada siapa pun yang sedang berjuang diam-diam, Jangan akhiri hidupmu. Bisa jadi, hari ini kamu merasa gelap… tapi besok Allah sudah menyiapkan cahaya yang belum kamu lihat.
Sebelum mengakhiri opini ini, penulis ingin Mengutip unen-unen Dawuh Abah KH. Mahsuli, yang mana beliau sering ngendikan bahwa الحياة أمانة، فلا تخن الأمانة باليأس Bahwa Hidup adalah amanah, maka jangan mengkhianatinya dengan putus asa.
Atau kalau menggunakan ungkapan Jawa orang tua tempo dulu; “Lek kesel, ngaso. Lek loro, crito. Ojo mungkasi uripmu—mergo Gusti Allah isih nunggu kowe bali.”
Demikian dan mudah-mudahan putra-putri kita, santri murid murid kita dijauhkan dari hal-hal yang destruktif semisal mengakhiri hidupnya dengan keputusasaan, nauubillah. Semoga dijauhkan dari itu semua, dengan wasilah menghidupkan ajaran Abah KH. Mahsuli, KH. Soefyan dan muassis Mawar, Al-Fatihah.
Pucangro-Mawar, 28 Ramdhan 2026