Beranda Program Prestasi Berita Menu
Semua Menu

ABAH YAI MAHSULI: KIAI RAKYAT, GURU KEHIDUPAN, DAN PENJAGA TRADISI

ABAH YAI MAHSULI: KIAI RAKYAT, GURU KEHIDUPAN, DAN PENJAGA TRADISI

1. Sosok yang Dekat dengan Umat

KH. Mahsuli Efendi merupakan sosok Kiai kampung yang dikenal istiqamah dalam menjaga tradisi keilmuan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam kesehariannya, beliau tampil sederhana, bersahaja, dan dekat dengan umat. Kesederhanaan itu tidak mengurangi kewibawaan beliau sebagai seorang ulama yang menjadi tempat bertanya, mengadu, dan meminta nasihat bagi masyarakat sekitar.

Beliau dikenal memiliki kecintaan yang besar terhadap ilmu agama dan pendidikan umat. Melalui pengajian, majelis taklim, serta berbagai kegiatan keagamaan, beliau mengabdikan hidupnya untuk menanamkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah kepada generasi muda dan masyarakat luas. Dakwah yang beliau sampaikan tidak hanya melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan hidup yang penuh kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan.

 

2. Wibawa dalam Kesederhanaan

Dalam pandangan keluarga dan para santri, Abah Yai Mahsuli adalah figur ayah sekaligus guru yang mengajarkan pentingnya akhlak, kerja keras, dan tawakal kepada Allah SWT. Beliau meyakini bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada kedudukan atau harta, melainkan pada manfaat yang diberikan kepada sesama.

Satu hal yang hingga kini masih melekat dalam ingatan penulis dan juga para santri adalah suara dehem beliau yang khas. Sosok beliau yang tinggi besar, berkulit kuning langsat, serta sering mengenakan udeng-udeng, membuat sebagian santri melihat kemiripan beliau dengan Pangeran Diponegoro. Perawakan yang gagah itu berpadu dengan kelembutan hati yang membuat siapa saja merasa dekat dan nyaman di hadapan beliau.

3. Sepeda Jengki Hijau dan Jalan Pengabdian

Bagi warga PP. Mawar Simo, pemandangan Abah Yai Mahsuli yang selalu istiqomah mengendarai sepeda jengki warna hijau khususnya ketika berangkat ke kantor MA Mawar adalah sesuatu yang sangat akrab. Sepeda itu seakan menjadi saksi perjalanan pengabdian beliau yang tidak pernah mengenal lelah.

Hari-hari beliau dipenuhi berbagai aktivitas. Mulai dari mengimami salat lima waktu, mengajar kitab kuning selepas Subuh hingga larut malam, dan itu masih ditambah dengan menerima tamu yang datang meminta nasihat, hingga memenuhi undangan pengajian dari berbagai daerah seperti Lamongan, Gresik, Tuban, dan Bojonegoro, dan sekitarnya. Kesibukan yang demikian padat membuat para santri memaklumi jika sesekali beliau alpa mengenakan kaus kaki saat berangkat ke kantor MA Mawar. Sebab sekali lagi mohon maaf bahwa dunia seorang Kiai memang lebih akrab dengan kesibukan melayani umat daripada mengurusi dirinya sendiri.

4. Fiqih Sosial di Serambi Ndalem

Di tengah kesibukan yang luar biasa, Abah Yai Mahsuli tetap menyempatkan diri memberi makan burung-burung kesayangannya beliau setiap pagi. Dan justru di sela aktivitas sederhana itulah beliau membangun hubungan sosial yang hangat dengan masyarakat.

Setiap guru, wali santri, dan warga yang melintas di depan ndalem beliau yang Asri, hampir dipastikan selalu mendapatkan sapaan khas. Kepada para pemuda dari Dusun Simo Sungelebak khususnya beliau sering menyapa, "Guk, sampean sehat kabeh ta  Guk ?" Lalu disusul guyonan-guyonan ringan khas beliau yang membuat suasana menjadi akrab dan penuh kehangatan. Semisal, “mumpung masih enom dan masih enak cacapnya Guk, ayo bikin anak Sing akeh...” Yang akhirnya membuat suasa menjadi cair dan saling tertawa  lepas, karena guyonan Allahu Yarham Abah Yai Suli.Al-Fatihah....

Banyak orang mengenang beliau bukan hanya sebagai ulama yang ‘alim-allamah, tetapi juga sebagai pribadi yang sangat menghargai manusia. Tidak ada perbedaan perlakuan antara orang kaya dan orang miskin, pejabat maupun rakyat biasa. Semua mendapatkan perhatian dan penghormatan yang sama dari beliau.

5. Guru yang Tidak Pernah Lelah Mengajar

Dalam kegiatan belajar mengajar, Abah Yai Mahsuli dikenal sangat telaten. Beliau tidak akan berhenti menjelaskan sebuah materi sebelum para santrinya benar-benar memahami pelajaran tersebut.

Sering kali satu pembahasan (tema) diulang berkali-kali hingga seluruh santri mampu menjawab pertanyaan beliau dengan benar. Bagi santri yang duduk di bangku depan, inilah ujian sesungguhnya. Namun justru dari ketelatenan itulah lahir banyak santri yang memiliki dasar ilmu agama yang kuat.

Keahlian beliau dalam bidang fiqih, tafsir, nahwu, sharaf, mantiq, dan berbagai cabang ilmu agama lainnya menjadi sumber kekaguman para santri. Setiap penjelasan yang beliau sampaikan terasa hidup dan mendalam sehingga sulit dilupakan.

6. Keadilan Seorang Murobbi

Penulis masih mengingat bagaimana beliau mencatat hafalan Imrithi dan Nadhom Maqsud dari penulis, juga Duo Gus –Gus Dul dan Gus Zus Anwar Zaenab almarhum, juga para santri satu per satu. Menariknya, beliau tidak pernah membedakan antara putra sendiri, keponakan, maupun santri biasa. Semua diperlakukan sama.

Sikap adil tersebut menjadi pelajaran berharga bagi seluruh santri. Bahwa di hadapan ilmu dan pendidikan, tidak ada keistimewaan berdasarkan hubungan keluarga. Yang dihargai adalah kesungguhan belajar dan akhlak yang baik.

7. Keteladanan yang Tak Pernah Pergi

Dan ketika Allah memanggil beliau pada Kamis Kliwon menjelang Subuh, 12 Muharram 1433 H, duka mendalam menyelimuti keluarga, santri, para mutaharrijin, dan masyarakat luas. Kepergian beliau menjadi kehilangan besar bagi Pondok Pesantren Mawar dan masyarakat Lamongan dan sekitarnya yang selama ini merasakan manfaat kehadiran beliau.

Dan besuk hari yakni Sabtu Kliwon, tanggal 27 Juni 2026/12 Muharram 1448 berarti beliau Abah Yai Mahsuli sudah 15 tahun telah meninggalkan kita secara fisik. Kita semua secara fisik  memang sudah tidak dapat lagi berjabat tangan dengan beliau. Namun secara ruhani, nasihat, keteladanan, dan ajaran beliau tetap hidup dalam ingatan para santri.

Jejak pengabdian beliau akan terus hidup melalui keluarga, murid-murid, serta masyarakat yang pernah merasakan sentuhan kasih sayang dan bimbingannya. Nama beliau dikenang sebagai sosok yang teguh menjaga agama, mencintai ilmu, dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan umat.

Sebab sekalipun seorang Kiai boleh wafat, namun keteladanannya tidak pernah ikut dimakamkan. Ia akan tetap hidup dalam hati para santri dan mutaharrijin yang pernah merasakan sentuhan kasih sayang dan keikhlasan beliau.

Abah Yai Mahsuli merupakan sosok Kiai kampung yang dikenal istiqamah dalam menjaga tradisi keilmuan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat. Dalam kesehariannya, beliau tampil sederhana, bersahaja, dan dekat dengan umat. Kesederhanaan itu tidak mengurangi kewibawaan beliau sebagai seorang ulama yang menjadi tempat bertanya, mengadu, dan meminta nasihat bagi masyarakat sekitar.

Beliau dikenal memiliki kecintaan yang besar terhadap ilmu agama dan pendidikan umat. Melalui pengajian, majelis taklim, serta berbagai kegiatan keagamaan, beliau mengabdikan hidupnya untuk menanamkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah kepada generasi muda dan masyarakat luas. Dakwah yang beliau sampaikan tidak hanya melalui lisan, tetapi juga melalui keteladanan hidup yang penuh kesabaran, keikhlasan, dan kesungguhan.

Dalam pandangan keluarga dan para santri, Abah Yai Mahsuli adalah figur ayah sekaligus guru yang mengajarkan pentingnya akhlak, kerja keras, dan tawakal kepada Allah SWT. Beliau meyakini bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada kedudukan atau harta, melainkan pada manfaat yang diberikan kepada sesama.

Dan Jejak pengabdian beliau terus hidup melalui keluarga, murid-murid, serta masyarakat yang pernah merasakan sentuhan kasih sayang dan bimbingannya. Nama beliau dikenang sebagai sosok yang teguh menjaga agama, mencintai ilmu, dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemaslahatan umat.

8.Matur Nuwun, Abah Yai

Dan Pada Haul ke-15 Abah Yai Mahsuli hari ini Sabtu Kliwon, 27 Juni 2026, izinkan kami penulis, juga para santri, Mutaharrijin, keluarga, dan seluruh masyarakat yang pernah merasakan sentuhan kasih sayang beliau, menyampaikan rasa hormat, cinta yang mendalam, dan terima kasih yang tak terhingga. Matur nuwun, Abah Yai.

Sekali lagi matur kasih atas ilmu yang telah panjenengan tanamkan. Matur nuhun Abah atas keteladanan yang panjenengan wariskan. Thank You Abah Yai Suli atas doa-doa yang mungkin dan pastinya tak pernah kami ketahui, tetapi menjadi sebab datangnya keberkahan dalam kehidupan kami.

Lima belas tahun telah berlalu sejak panjenengan berpulang menghadap Allah SWT. Namun bagi kami, panjenengan tidak pernah benar-benar pergi. Panjenengan tetap hadir dalam setiap lembar kitab yang kami baca, dalam setiap adab yang kami jaga, dalam setiap doa yang kami panjatkan, dan dalam setiap langkah pengabdian yang kami ikhtiarkan.

Semoga Allah SWT melimpahkan Rahmat, Maghfirah, dan kemuliaan yang tiada putus kepada Abah Yai Mahsuli. Semoga Allah meluaskan alam kubur beliau, menerangi maqbarah beliau dengan cahaya iman dan Al-Qur'an, serta menempatkan beliau bersama para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shaleh. Dengan si Mbah KH. Seofyan, dengan Mbah Ibu, dengan Aba Masykuri, dengan Aba Saifud, dengan Yai Anwar. Dan  juga para muassis dan masyayih Mawar. 

Kepada seluruh pembaca yang budiman, para santri, alumni, dan pecinta beliau, marilah sejenak menghadiahkan Ummul Kitab untuk Abah Yai Mahsuli, para masyayikh Pondok Pesantren Mawar, kedua orang tua kita, dan seluruh kaum muslimin muslimat yang telah mendahului kita. Lahumul Fatihah....

 

Mawar-Pucangro, 19 Juni 2026

Khadam,

Ali Shdikin El-Nasir*


*Ali Shodikin El-Nasir adalah Muallif Buku KH. Mahsuli Efendi, “Sang Obor Cahaya Agama dan Pesantren”, juga Penulis Buku KH. Soefyan Abd Wahab, Hidup Berguna Mati Berjasa” –Sang Founding Father PP Mawar Simo Lamongan.

Kembali